User Rating: 0 / 5

Star inactiveStar inactiveStar inactiveStar inactiveStar inactive
 

Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh berpidato di hadapan Menteri Dalam Negeri Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, MA, PhD, serta sekitar 1.500 peserta Rakornas (Foto: Satrio)

Jakarta - Agar bisa menggerakkan aparaturnya di 514 kabupaten/kota, 34 provinsi serta 7.400 kecamatan, selain menggunakan pendekatan transformasi, orkestrasi dan mobilisasi, Dukcapil harus membangun kebersamaan melalui budaya kerja atau working culture.

"Agar terwujud kekompakan kita membangun tahapan Dukcapil BISA. Ini merupakan satu semangat membangun kebersamaan. BISA adalah singkatan, B: Berkarya, I: Inovasi dan Inisiatif, S: Sabar namun penuh semangat, dan A: Adaptif dan amanah. BISA adalah budaya kerja yang Dukcapil bangun agar memiliki semangat yang sama di seluruh Indonesia," jelas Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh di hadapan Menteri Dalam Negeri Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, MA, PhD, serta sekitar 1.500 aparatur Dinas Dukcapil provinsi dan kabupaten/kota di Discovery Hotel Jakarta, Senin (25/11/2019) malam. 

 

Secara berseloroh Zudan mengatakan bahwa aparatur Dukcapil semuanya memiliki pabrik pil sabar. "Walau dibully oleh masyarakat kami tetap bekerja dengan penuh semangat," ujarnya.  

Setelah menyamakan budaya kerja, pada Februari 2018 Dukcapil melaunching Gerakan Indonesia Sadar Adminduk (GISA). Tujuannya agar seluruh penduduk Indonesia sadar akan pentingnya dokumen kependudukan.

Kemudian di Februari 2019, dalam Rakornas Dukcapil I tahun ini Dirjen Zudan Arif Fakrulloh melaunching Dukcapil Go Digital sekaligus menguatkan  big data kependudukan agar bisa dimanfaatkan oleh seluruh instansi. 

"Kemudian yang terakhir malam ini, mohon berkenan Bapak Mendagri untuk mencanangkan Anjungan Dukcapil Mandiri yang ada di hadapan ibu bapak semua," kata Zudan.

Semangatnya adalah transformasi memindahkan sumber daya manusia, perangkat dan aplikasi ke dalam sebuah mesin. "Ini diawali dengan semangat Dukcapil yang tidak lagi meggunakan tanda tangan dan cap basah. Kita lihat ada dua contoh Kartu Keluarga warna biru menggunakan tanda tangan manual dan cap basah serta Kartu Keluarga putih yang menggunakan tanda tangan QR Code," jelas Zudan. 

Dengan menggunakan tanda tangan digital (TTD), para kepala Dinas Dukcapil bisa berkantor dari manapun. "Meski sedang mengikuti Rakornas operasional kantor dinas Dukcapil tetap berjalan. Karena masing-masing Kadis Dukcapil membawa gadget kami pun sediakan wifi, semua pekerjaan bisa ditandatangani dari ruangan ini," ujar Zudan di hadapan sekitar 1.500 peserta rakornas. Dukcapil***