14128489212084379801

Saya memang belum pernah tinggal di Amerika, Australia maupun negara-negara maju yang telah menerapkan Kartu Identitas Tunggal untuk segalah urusan. Bukan saja di Amerika, ternyata  negara tetangga kita Malaysia juga sudah menerapkan sistem ini sejak lama. makanya untuk data urusan kependudukkan dan jaminan sosial mereka lebih rapi ketimbang kita disini.

KTP Amerika sumber gambar

1412849026968766700

 

KTP Malaysia sumber gambar

Saya yakin dan percaya bahwa eKTP dirancang untuk mengaplikasikan sistem identitas tunggal untuk semua urusan. dengan sistem database yang canggih yang terpusat dan terkontrol dengan aman di Kementerian Dalam Negeri. Semua data dari penduduk Indonesia akan tersimpan disana secara rapi.

Data eKTP diharapkan tidak hanya menyimpan identitas berupa nama,tempat dan tanggal lahir,alamat, agama, serta golongan darah saja. Namun bisa menyimpan semua data yang berkaitan dengan personal penduduk seperti pendapatan, jumlah tabungan,kekayaan, pajak,riwayat penyakit dan pengobatan dan segala urusan yang menyangkut hak dan kewajiban warga negara.

KTP Indonesia sumber gambar

Tapi kenyataannya eKTP tak ubahnya seperti KTP lama yang hanya sekedar difoto kopi untuk urusan-urusan melamar kerja dan mendaftar menjadi nasabah bank. Bahkan eKTP tak laku digadaikan jika kita kekurangan uang saat makan di restoran apalagi saat menambal ban sedangkan uang didompet lagi cekak hehehe (pengalaman pribadi). Tukang tambal ban malah melirik hp penulis untuk ditinggalkan hehehe.

Tapi itulah kenyataannya eKTP yang dianggarkan lebih dari 5,8  trilyun fungsinya kok sama saja dengan KTP lama. Saya belum pernah menggunakan eKTP untuk mengambil uang di ATM. Soalnya dalam bayangan saya chip yang ada di eKTP bisa bermanfaat banyak. Selain sebagai pencegah pemalsuan data kependudukkan juga sebagai media untuk mengetahui jaminan sosial seseorang. Sehingga dalam birokrasi tak serumit sekarang. Jika eKTP benar-benar dimanfaatkan maka segala proses yang menyangkut data kependudukkan dan jaminan sosialnya akan mudah diakses dan dipergunakan oleh pihak-pihak yang membutuhkan.

Jika eKTP bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin, maka tak mustahil nantinya kita bisa terdata dengan sangat detil di bank data kependudukkan. sehingga kita bisa benar-benar mendapat perhatian dari penyelenggara negara dan pemerintahan. Sejatinya para pejabat itu memperhatikan kondisi rakyatnya. Dengan eKTP yang terintegrasi dengan seluruh instansi maka keperluan dan pelayanan kepada warga akan cepat dan tak bertele-tele seperti sekarang ini.

Entah kapan hal ini akan dilaksanakan. Sementara negara lain sudah semakin canggih dalam mendata dan melindungi warganya, sedangkan di sini pejabat dan aparatnya masih sibuk memperkaya dirinya masing-masing.

Memang kita harus sabar dan berharap pemerintahan berikutnya akan lebih memperhatikan rakyatnya dan segera menjalankan sistem eKTP yang biayanya tak murah itu.

 

Salam Kompasiana