Print 
Ditulis pada 23 September 2014 19:31 WIB
 

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah berusaha untuk menerapkan teknologi untuk urusan kependudukan dengan menerbitkan kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el). Otentikasi yang lebih ketat diterapkan di sistem KTP yang mengadopsi teknologi tersebut.

Penggunaan pemindai sidik jari maupun pemindai mata sebagai otentikasi untuk mengenal penduduk yang terdaftar diklaim sangat efektif. Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dirjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Irman, mengaku bahwa otentikasi tersebut berhasil 'mengurangi' jumlah angka penduduk yang tercatat di data center miliknya.

"Sewaktu awal penerapan nomor unik untuk semua penduduk, kita catat ada 259 juta penduduk di Indonesia. Tapi, di tahun 2014 tercatat ada 254 juta penduduk Indonesia. Jumlah itu turun drastis karena ternyata ada yang dobel identitasnya dan ketahuan karena sistem otentikasi yang baru," ungkap Irman. 

Irman juga menyatakan bahwa otentikasi tersebut dibawa pada sistem kependudukan yang baru agar lebih mudah dalam mengetahui dan mengawasi penduduk yang sering berpindah tempat. Selain itu, soal keamanan dan kemudahan akses layanan publik jadi fungsi dasar yang diharapkan bisa disediakan KTP-el.

"Fungsi dasar yang diberikan oleh KTP-el itu minimal berupa keamanan dan kemudahan layanan publik bagi masyarakat di Indonesia," ujar Irman lagi.

Pemerintah berharap penerapan teknologi di kartu identitas masyarakat dapat membuat integrasi pada semua layanan publik lebih mudah. Chip yang disematkan di dalam KTP-el diharapkan bisa memudahkan proses integrasi layanan yang disediakan untuk masyarakat walaupun sampai saat ini masih belum berfungsi secara optimal. 

"Di data center kita semua data penduduk sudah tersedia supaya lebih gampang diintegrasikan dengan layanan publik lain, hanya saja sekarang ini masih belum online," tandas Irman yang ditemui di Hotel Millenium, Jakarta.