Karakteristik Kepala Keluarga

Informasi tentang karakteristik kepala keluarga merupakan informasi yang penting terutama dalam program pengentasan kemiskinan, pendidikan, ketenagakerjaan dan lain sebagainya.

Tabel : Jumlah dan Proporsi Kepala Keluarga Kota Bontang Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Tahun 2010

KECAMATAN LAKI-LAKI PEREMPUAN L+P
n % n % n %
Bontang Utara 19694 38,61% 2162 4,24% 21.856 42,85%
Bontang Selatan 17968 35,22% 2257 4,42% 20.225 39,65%
Bontang Barat 8059 15,80% 870 1,71% 8.929 17,50%
Kota Bontang 45.721 89,63% 5.289 10,37% 51.010 100,00%

Tabel 3.16 menunjukkan jumlah dan proporsi kepala keluarga menurut kecamatan. Dari tabel tersebut terlihat bahwa proporsi kepala keluarga laki-laki di Kota Bontang 89,63 persen dan perempuan 10,37 persen.

 

Tabel 3.17. Jumlah dan Proporsi Kepala Keluarga Kota Bontang Menurut Status Kawin

Tahun 2010

STATUS KAWIN LAKI-LAKI PEREMPUAN L+P
n % n % n %
Belum Kawin 6.835 13% 1.928 4% 8.763 17%
Kawin 38.089 75% 989 2% 39.078 77%
Cerai Hidup 358 1% 740 1% 1.098 2%
Cerai Mati 439 1% 1.632 3% 2.071 4%
Jumlah 45.721 90% 5.289 10% 51.010 100%

Selanjutnya jika dikaitkan dengan status kawin, kepala keluarga di Kota Bontang berstatus kawin yakni 44 persen. Proporsi kepala keluarga laki-laki berstatus kawin sama dengan kepala keluarga perempuan yaitu 22 persen. Konstruksi sosial bahwa laki-laki adalah kepala keluarga nampaknya mulai bergeser.

Disamping itu, terlihat pula adanya kepala keluarga yang berstatus belum kawin (lajang) sebanyak 54 persen . Biasanya kepala keluarga yang berstatus belum kawin merupakan anggota keluarga yang menggantikan orang tua yang meninggal, atau kepala keluarga tersebut hidup sendirian.

Jika diperhatikan lebih lanjut, persentase kepala keluarga yang bersatus cerai (baik cerai hidup maupun cerai mati) sebesar 2,16 persen, dimana proporsi kepala keluarga perempuan berstatus cerai lebih tinggi dibandingkan kepala keluarga laki-laki. Laki-laki pada umumnya segera melakukan perkawinan kembali sesudah terjadi perceraian, sementara perempuan lebih banyak yang menunda dengan berbagai alasan.

Tabel 3.18. Jumlah dan Proporsi Kepala Keluarga Menurut Kelompok Umur dan Status Kawin Kota Bontang Tahun 2010

KELOMPOK UMUR BELUM KAWIN KAWIN CERAI HIDUP CERAI MATI JUMLAH
n % n % n % n % N %
10-14 3 0,01 0 0 0 0 0 0 3 0,01
15-19 600 1,18 42 0,08 2 0 0 0 644 1,26
20-24 2.944 5,77 1132 2,22 42 0,08 12 0,02 4.130 8,1
25-29 2.717 5,33 4381 8,59 114 0,22 34 0,07 7.246 14,21
30-34 1.308 2,56 6468 12,68 154 0,3 74 0,15 8.004 15,69
35-39 543 1,06 6467 12,68 142 0,28 106 0,21 7.258 14,23
40-44 297 0,58 6308 12,37 183 0,36 207 0,41 6.995 13,71
45-49 148 0,29 5774 11,32 167 0,33 345 0,68 6.434 12,61
50-54 98 0,19 4427 8,68 135 0,26 368 0,72 5.028 9,86
55-59 50 0,1 2316 4,54 86 0,17 290 0,57 2.742 5,38
60-64 24 0,05 954 1,87 34 0,07 252 0,49 1.264 2,48
65-69 15 0,03 437 0,86 22 0,04 178 0,35 652 1,28
70-74 5 0,01 225 0,44 10 0,02 105 0,21 345 0,68
75+ 5 0,01 147 0,29 7 0,01 100 0,2 259 0,51
Jumlah 8.757 17,17 39.078 76,62 1.098 2,15 2.071 4,06 51.004 100

Selanjutnya jika kepala keluarga ini di kaitkan dengan kelompok umur dan status kawin, maka dari Tabel 3.18 terlihat bahwa sebagian besar keluarga di Kota Bontang dikepalai oleh kepala keluarga yang berumur antara 30-54 tahun. Ini menunjukkan bahwa Kota Bontang merupakan keluarga yang berada pada kelompok produktif dan yang menarik adalah adanya kepala keluarga pada kelompok umur 10-14 tahun, walaupun persentasenya kecil tetapi harus menjadi perhatian pemerintah kota.

Jika dikaitkan dengan status kawin menurut kelompok umur, maka terlihat bahwa proporsi tertinggi kepala keluarga yang berstatus belum kawin berada pada kelompok umur 20-39 tahun. Sedangkan proporsi tertinggi kepala keluarga berstatus kawin berada pada kelompok umur 30-54 tahun, dan kepala keluarga berstatus cerai hidup berada pada kelompok umur 30-54 tahun, serta kepala keluarga berstatus cerai mati berada pada kelompok umur 50 tahun ke atas.

Tabel 3.19 Persentase Kepala Keluarga menurut Kelompok Umur, Status Kawin, dan Jenis Kelamin Kota

KELOMPOK UMUR LAKI-LAKI PEREMPUAN L+P
BELUM KAWIN KAWIN CERAI HIDUP CERAI MATI JUMLAH BELUM KAWIN KAWIN CERAI HIDUP CERAI MATI JUMLAH
10-14 1 - - - 1 2 - - - 2 3
15-19 441 35 - - 476 159 7 2 - 168 644
20-24 2.208 1.052 8 - 3.268 736 80 34 12 862 4.130
25-29 2.178 4.232 24 7 6.441 539 149 90 27 805 7.246
30-34 1.076 6.291 49 11 7.427 232 177 105 63 577 8.004
35-39 431 6.332 42 22 6.827 112 135 100 84 431 7.258
40-44 233 6.190 53 37 6.513 64 118 130 170 482 6.995
45-49 119 5.667 61 54 5.901 29 107 106 291 533 6.434
50-54 71 4.325 47 82 4.525 27 102 88 286 503 5.028
55-59 37 2.257 43 70 2.407 13 59 43 220 335 2.742
60-64 18 933 16 58 1.025 6 21 18 194 239 1.264
65-69 10 422 9 46 487 5 15 13 132 165 652
70-74 3 216 5 23 247 2 9 5 82 98 345
75+ 5 137 1 29 172 - 10 6 71 87 259
Jumlah 6.831 38.089 358 439 45.717 1.926 989 740 1.632 5.287 51.004

Dilihat dari jenis kelamin, nampak bahwa dugaan perempuan menjadi kepala keluarga tertinggi berada pada usia 50 tahun ke atas adalah benar, karena ternyata kepala keluarga perempuan tersebut memang telah berstatus cerai mati ataupun cerai hidup yang mengharuskan mereka menjadi kepala keluarga. Kondisi ini perlu perhatian lebih lanjut, karena keluarga yang dikepalai perempuan biasanya mempunyai status ekonomi yang rendah, karena perempuan pada umur yang lanjut, biasanya tidak memiliki pekerjaan yang tetap, sehingga kemampuan untuk mencukupi kebutuhan keluarga rendah. Untuk kebutuhan pemberdayaan terhadap keluarga-keluarga tersebut perlu perhatian khusus, apakah anggota keluarganya berstatus bekerja atau tidak bekerja.

Dalam hal intervensi kemiskinan, data keluarga ini juga dibutuhkan karena kemiskinan individu berasal dari kemiskinan keluarga. Oleh sebab itu untuk menangani kemiskinan, unit yang harus diperhatikan adalah unit keluarga atau dengan kata lain melakukan pemberdayaan keluarga, dimana seluruh potensi anggota keluarga harus ditingkatkan.

Tabel 3.20 Jumlah dan Persentase Kepala Keluarga Kota Bontang Menurut Pendidikan yangDitamatkan Tahun 2010

TINGKAT PENDIDIKAN JUMLAH KEPALA KELUARGA
N %
Tidak/Belum Sekolah 887 1,74%
Belum Tamat SD/Sederajat 2308 4,52%
Tamat SD/Sederajat 9304 18,24%
SLTP/Sederajat 8029 15,74%
SLTA/Sederajat 24126 47,30%
Diploma I/II 622 1,22%
Akademi/Diploma III/Sarjana Muda 1650 3,23%
Diploma IV/Strata I 3684 7,22%
Strata II 380 0,74%
Strata III 20 0,04%
Jumlah 51010 100,00%

Tabel 3.20 menyajikan jumlah dan persentase kepala keluarga menurut pendidikan yang ditamatkan. Dari tabel tersebut nampak bahwa 24,5 persen kepala keluarga berpendidikan belum tamat Sekolah Dasar dan tamat Sekolah Dasar. Sedangkan Kepala Keluarga tamat SLTA sejumlah 47,30%. Proporsi yang tidak sekolah lebih tinggi pada kepala keluarga perempuan dibandingkan kepala keluarga laki-laki. Pada pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, proporsi kepala keluarga yerempuan yang menamatkan sekolah menengah lebih rendah dibandingkan kepala keluarga laki-laki. Tingkat pendidikan yang dicapai kepala keluarga merupakan salah satu indikator kualitas hidup yang menunjukkan status sosial dan status kesejahteraan keluarga.. Semakin tinggi pendidikan yang dicapai oleh seorang kepala keluarga diharapkan semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan dari orang yang bersangkutan maupun anggota keluarganya. Selain itu pendidikan kepala keluarga mempunyai hubungan yang signifikan dengan pendidikan anggota keluarga.

Apabila dilihat dari tingkat pendidikan ini, maka kepala keluarga yang mempunyai pendidikan rendah diduga mempunyai pendapatan yang rendah, sehingga diduga mereka tidak mampu memberikan pendidikan yang tinggi bagi anggota keluarganya. Biasanya kepala keluarga yang berpendidikan rendah akan bekerja di sektor informal.

Berkaitan dengan tingginya proporsi kepala keluarga perempuan yang tamat SD/sederajat, belum tamat SD/sederajat, dan tidak sekolah, maka dugaan keluarga yang dikepalai perempuan akan mempunyai status ekonomi yang lebih rendah dibandingkan yang dikepalai laki-laki mendekati kenyataan

Hal ini dibuktikan dengan jenis kegiatan yang dimiliki oleh kepala keluarga sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3.21

Tabel 3.21.Jumlah dan Proporsi Kepala Keluarga Kota Bontang Menurut Jenis Kegiatan dan Jenis Kelamin Tahun 2010

JENIS KEGIATAN LAKI-LAKI PEREMPUAN L+P
n % n % n %
Belum/Tidak Bekerja 4.557 8,93% 1.217 2,39% 5.774 11,32%
Bekerja 40.554 79,50% 2.126 4,17% 42.680 83,67%
Mengurus Rumah Tangga 49 0,10% 1.856 3,64% 1.905 3,73%
Pelajar/Mahasiswa 173 0,34% 83 0,16% 256 0,50%
Pensiunan 387 0,76% 7 0,01% 395 0,77%
Jumlah 45.720 89,63% 5.289 10,37% 51.010 100,00%

Dari Tabel 3.21 terlihat bahwa 83,67 persen kepala keluarga Kota Bontang bekerja. Proporsi ini lebih tinggi pada kepala keluarga laki-laki yakni 79,50 persen dibandingkan pada kepala keluarga perempuan yakni 4,17 persen, yang menunjukkan bahwa akses terhadap pekerjaan untuk perempuan terbatas. Sangat menarik untuk diperhatikan adalah adanya kepala keluarga yang berstatus mengurus rumah tangga yaitu 3,73 persen. Proporsi kepala keluarga laki-laki yang mengurus rumah tangga lebih rendah yakni 0,10 persen daripada kepala keluarga perempuan yakni 3,64 persen. Selain itu, terdapat kepala keluarga yang sudah pensiun sebesar 0,77 persen dengan proporsi kepala keluarga laki-laki lebih tinggi yakni 0,76 persen daripada kepala keluarga perempuan yakni 0,01 persen. Selain itu yang perlu menjadi perhatian adalah adanya keluarga yang dikepalai oleh kepala keluarga yang tidak bekerja yakni 11,32 persen dan kepala keluarga yang masih berstatus pelajar/mahasiswa 0,50 persen.

Untuk itu pemerintah Kota Bontang perlu memperhatikan keluarga yang dikepalai oleh kepala keluarga yang tidak bekerja, walaupun proporsi mereka kecil. Kepala keluarga yang tidak bekerja, dapat disebabkan karena sudah memasuki usia pensiun atau memang tidak mampu masuk ke pasar kerja. Untuk mereka ini perlu diberikan intervensi untuk membantu meningkatkan status kesejahteraan mereka, karena pada umumnya keluarga yang dikepalai oleh kepala keluarga yang tidak bekerja memiliki status ekonomi yang rendah. Karena bagaimana mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan diduga mereka tidak mempunyai penghasilan, sehingga pemerintah Kota Bontang perlu membuat perencanaan pelayanan kebutuhan dasar penduduk.

Tabel 3.22. Jumlah dan Proporsi Kepala Keluarga Kota Bontang Menurut Jenis Pekerjaan dan Jenis Kelamin Tahun 2010

JENIS PEKERJAAN LAKI-LAKI PEREMPUAN L + P
N % n % n %
Anggota DPRD Kab/Kota 19 0,04% 1 0,00% 20 0,04%
Anggota DPRD Prov 1 0,00% 0 0,00% 1 0,00%
Apoteker 3 0,01% 1 0,00% 4 0,01%
Biarawati 2 0,00% 0 0,00% 2 0,00%
Bidan 0 0,00% 5 0,01% 5 0,01%
Buruh Harian Lepas 2085 4,09% 19 0,04% 2104 4,12%
Buruh Nelayan/Perikanan 144 0,28% 0 0,00% 144 0,28%
Buruh Peternakan 9 0,02% 1 0,00% 10 0,02%
Buruh Tani/Perkebunan 301 0,59% 4 0,01% 305 0,60%
Dokter 34 0,07% 10 0,02% 44 0,09%
Dosen 24 0,05% 0 0,00% 24 0,05%
Guru 433 0,85% 98 0,19% 531 1,04%
Imam Masjid 26 0,05% 0 0,00% 26 0,05%
Industri 45 0,09% 1 0,00% 46 0,09%
Juru Masak 9 0,02% 2 0,00% 11 0,02%
Karyawan BUMD 51 0,10% 4 0,01% 55 0,11%
Karyawan BUMN 3273 6,42% 53 0,10% 3326 6,52%
Karyawan Honorer 387 0,76% 25 0,05% 412 0,81%
Karyawan Swasta 20157 39,52% 986 1,93% 21143 41,45%
Kepolisian RI/POLRI 326 0,64% 2 0,00% 328 0,64%
Konstruksi 65 0,13% 2 0,00% 67 0,13%
Konsultan 19 0,04% 0 0,00% 19 0,04%
Lainnya 6 0,01% 1 0,00% 7 0,01%
Mekanik 160 0,31% 0 0,00% 160 0,31%
Nelayan/Perikanan 1179 2,31% 7 0,01% 1186 2,33%
Notaris 3 0,01% 1 0,00% 4 0,01%
Paraji 2 0,00% 0 0,00% 2 0,00%
Paranormal 2 0,00% 1 0,00% 3 0,01%
Pastor 0 0,00% 0 0,00% 0 0,00%
Pedagang 519 1,02% 73 0,14% 592 1,16%
Pegawai Negeri Sipil/PNS 1384 2,71% 132 0,26% 1516 2,97%
Pelaut 41 0,08% 3 0,01% 44 0,09%
Pembantu Rumah Tangga 4 0,01% 102 0,20% 106 0,21%
Penata Rambut 10 0,02% 7 0,01% 17 0,03%
Pendeta 54 0,11% 7 0,01% 61 0,12%
Peneliti 6 0,01% 1 0,00% 7 0,01%
Pengacara 9 0,02% 0 0,00% 9 0,02%
Penyiar Televisi 0 0,00% 0 0,00% 0 0,00%
Perancang Busana 0 0,00% 2 0,00% 2 0,00%
Perawat 27 0,05% 11 0,02% 38 0,07%
Perdagangan 782 1,53% 77 0,15% 859 1,68%
Petani/Pekebun 27 0,05% 11 0,02% 38 0,07%
Peternak 782 1,53% 77 0,15% 859 1,68%
Pialang 1 0,00% 0 0,00% 1 0,00%
Seniman 11 0,02% 0 0,00% 11 0,02%
Sopir 424 0,83% 0 0,00% 424 0,83%
Tabib 3 0,01% 2 0,00% 5 0,01%
Tentara Nasional Indonesia/TNI 327 0,64% 0 0,00% 327 0,64%
Transportasi 110 0,22% 2 0,00% 112 0,22%
Tukang Batu 292 0,57% 0 0,00% 292 0,57%
Tukang Cukur 19 0,04% 1 0,00% 20 0,04%
Tukang Gigi 3 0,01% 1 0,00% 4 0,01%
Tukang Jahit 72 0,14% 7 0,01% 79 0,15%
Tukang Kayu 182 0,36% 1 0,00% 183 0,36%
Tukang Las/Pandai Besi 51 0,10% 0 0,00% 51 0,10%
Tukang Listrik 35 0,07% 0 0,00% 35 0,07%
Ustadz/Mubaligh 51 0,10% 1 0,00% 52 0,10%
Wakil Walikota 1 0,00% 0 0,00% 1 0,00%
Walikota 1 0,00% 0 0,00% 1 0,00%
Wartawan 12 0,02% 0 0,00% 12 0,02%
Wiraswasta 6084 11,93% 436 0,85% 6520 12,78%
Jumlah 40089 78,59% 2178 4,27% 42267 82,86%

Sebanyak 82,86 persen kepala keluarga Kota Bontang adalah bekerja dengan jenis pekerjaan terbesar adalah sebagai Karyawan Swasta yaitu 41,45 persen. Proporsi kepala keluarga laki-laki yang bekerja sebagai karyawan swasta lebih tinggi dibandingkan kepala keluarga perempuan.