Print 

4)Jumlah dan Proporsi Penduduk Berdasarkan Status Kawin

Informasi tentang struktur perkawinan penduduk pada waktu tertentu berguna bagi para penentu kebijakan dan pelaksana program kependudukan, terutama dalam hal pembangunan keluarga dan upaya-upaya peningkatan kualitas keluarga. Perkawinan pada umur dini akan menimbulkan dampak terhadap kualitas keluarga.

Tabel 3.12.Jumlah dan Proporsi Penduduk Kota Bontang Menurut Status Kawin, Jenis Kelamin, dan Kecamatan Tahun 2010

JENIS KELAMIN/KECAMATAN BELUM KAWIN KAWIN CERAI HIDUP CERAI MATI JUMLAH
n % n % n % N % n %
LAKI-LAKI
Bontang Utara 22.724 12,92 16.522 9,4 157 0,09 204 0,12 39607 22,53
Bontang Selatan 22.083 12,56 15.445 8,78 184 0,1 252 0,14 37964 21,59
Bontang Barat 9.769 5,56 6.718 3,82 51 0,03 68 0,04 16606 9,44
PEREMPUAN
Bontang Utara 16.652 9,47 16.103 9,16 372 0,21 975 0,55 34102 19,39
Bontang Selatan 16.472 9,37 15.131 8,61 411 0,23 1088 0,62 33102 18,83
Bontang Barat 7.476 4,25 6.585 3,75 119 0,07 269 0,15 14449 8,22
L+P 40.600   37.819   902   2.332      
Bontang Utara 39.376 22,39 32.625 18,55 529 0,3 1.179 0,67 73.709 41,92
Bontang Selatan 38.555 21,93 30.576 17,39 595 0,34 1.340 0,76 71.066 40,42
Bontang Barat 17.245 9,81 13.303 7,57 170 0,1 337 0,19 31.055 17,66
JUMLAH 95.176   76.504   1.294   2.856   175.830  

 

Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bontang (data SIAK diolah)

Tabel 3.12 menyajikan jumlah dan proporsi penduduk menurut status kawin di Kota Bontang. Dari tabel tersebut terlihat bahwa Kota Bontang didominasi oleh penduduk berstatus belum kawin yakni 54,12 persen. Hal ini terlihat, baik untuk penduduk laki-laki maupun perempuan. Proporsi penduduk laki-laki yang berstatus belum kawin lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan, karena biasanya laki-laki masih meneruskan pendidikan atau baru mulai bekerja, sehingga menunda perkawinan. Laki-laki yang dikonstruksikan sebagai kepala keluarga yang harus membiayai kebutuhan keluarga, sehingga mempunyai keinginan mapan secara ekonomi sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Proporsi penduduk dengan status cerai hidup dan cerai mati lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan laki-laki yang bercerai baik karena perceraian maupun karena ditinggal meninggal istri lebih cepat melakukan perkawinan kembali dibandingkan perempuan. Perempuan lebih banyak pertimbangan untuk menikah kembali terutama apabila perempuan tersebut mandiri secara ekonomi.

Menarik untuk diperhatikan pada status cerai hidup, bahwa proporsi penduduk berstatus cerai hidup lebih besar pada perempuan daripada laki-laki .Kemandirian perempuan secara ekonomi serta peningkatan kesadaran tentang hak-hak perempuan dalam rumah tangga, seringkali menadi penyebab keberanian perempuan menggungat cerai. .